MAKASSAR — Dunia maritim internasional tentu tidak asing lagi dengan kehebatan perahu tradisional khas Sulawesi Selatan yang satu ini. Perahu Pinisi bukan sekadar alat transportasi air atau sarana perdagangan antar-pulau masa lampau, melainkan sebuah simbol agung dari keahlian tangan, ketekunan, dan filosofi pelaut ulung dari tanah Mandar dan Bulukumba yang telah mendunia.
Secara historis, tradisi pembuatan perahu Pinisi telah berakar sejak ratusan tahun lalu. Keunikan utama dari perahu bertiang dua dengan tujuh helai layar ini terletak pada metode pembuatannya. Tanpa menggunakan paku besi sepeser pun, para pembuat perahu tradisional—yang dikenal dengan sebutan Punggawa dan Sawi—merakit papan-papan kayu lambung kapal menggunakan pasak kayu khusus. Teknik turun-temurun ini menunjukkan tingkat ketelitian dan pemahaman mendalam mengenai struktur kayu serta aerodinamika laut.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, proses pembuatan Pinisi sarat dengan nilai-nilai ritual sakral. Mulai dari pemilihan kayu pilihan di hutan pada hari baik, proses penebangan, hingga ritual peluncuran perahu ke laut, semuanya diiringi dengan doa dan upacara adat. Hal ini mencerminkan rasa hormat yang tinggi dari para pelaut terhadap unsur alam, khususnya angin dan lautan luas yang menjadi medan pengabdian hidup mereka.
Kini, meskipun teknologi industri perkapalan modern telah berkembang pesat, warisan pembuatan perahu Pinisi tetap dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) telah menetapkan seni pembuatan perahu Pinisi di Sulawesi Selatan sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia. Pengakuan global ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masyarakat Nusantara memiliki nilai universal yang luar biasa dan patut dibanggakan oleh seluruh bangsa Indonesia.



